[ONESHOT] 4395’s

image

Author: Justpit Length: Oneshot Main Cast: Nam Taehyun (WINNER), Park Dayeol (OC) Genre: Sad, School Life,Angst (maybe) Rating: T
Lagi-lagi saya membawa ff main cast nya dari YGFam hehe, tolong setelah baca memberikan komentar ,komentar kalian mempengaruhi tulisan saya selanjutnya loh ^^. Selamat membaca~

Disaat gadis lain mengejar pria yang mereka cintai lain hanya dengan Park Dayeol, dia cukup pengecut untuk melakukan hal-hal yang biasa gadis lain lakukan terhadap pria yang mereka sukai. Yang dia lakukan hanyalah memotret pria yang sukai -cintai- itu. Seperti saat ini, ia hanya duduk di atap sekolah dan memotret pria itu yang  saat ini sedang bermain basket  dari atas sana.

“Park Dayeol!” Tanpa gadis ini menolehpun ia sudah tau suara milik siapa dan yang bisa dipastikan hanyalah suara seorang gadis.

“Kau selalu saja membolos pelajaran seni setiap minggunya” Kini gadis yang memanggil Dayeol berdiri tepat disampingnya dan ikut memperhatikan lapangan yang tepat dibawah mereka.

“Dan kau Kin Jisoo, tidak kusangka salah satu murid teladan ikut membolos juga” Terdengar nada sindiran dari mulut  Dayeol.

“Yak! Aku tidak mungkin membolos kalau Seosangnim tidak masuk hari ini”

“Bukankah ia tidak pernah tidak meninggalkan tugas?” Kini Dayeol menatap sahabatnya itu dengan dahi mengernyit.

“Untuk apa aku mengerjakan tugas kalau sahabatku ini adalah anak dari guruku yang memberi tugas itu? “ Jawab Jisoo seraya menampilkan deretan gigi nya. Dayeol hanya bisa melengos mendengar jawaban sahabatnya dan ia mulai meninggalkan Jisoo bersama cengirannya. Jisoo yang sadar Dayeol meninggalkannya langsung berlari kecil menyusul Dayeol.

Dayeol dan Jisoo kembali ke kelas untuk mengambil tas mereka, masih tersisa beberapa murid disana dan mereka semua nampaknya mulai membicarakan salah satu dari mereka.

‘Sebenarnya dia itu siapa sih, kenapa setiap pelajaran Park Seosangnim selalu saja tidak masuk’

‘Aku juga tidak tahu’

‘Apa karena dia ketua club fotografi’

‘Tapi itu tidak adil’

Dayeol hanya bisa mendengarkan mereka, menurutnya percuma menanggapi mereka ,itu hanya akan membuang energimu dan membuat moodmu akan jelek sepanjang hari. Jisoo yang ikut mendengarnya mencoba melirik kea rah Dayeol, sama..Ya ekspresi Dayeol tak pernah berubah, tetap teduh. Setelah membereskan tas mereka berjalan beriringan keluar kelas, Jisoo sempat melirik sadis kepada ‘mereka’ yang tadi membicarakan sahabatnya.

“Kenapa sih kamu diam saja? Kau ini bodoh atau bagaimana hah?” Dayeol yang mendengar gadis duduk disampingnya ini marah-marah hanya bisa tersenyum tipis dan tetap sibuk memperhatikan kameranya yang berisikan foto-foto yang dia potret hari ini.

Setelah setengah jam mereka menempuh perjalanan sampailah mereka didepan bangunan mewah dengan halaman yang sangat luas. Mungkin bagi mereka yang baru pertama melihatnya akan terkagum-kagum, namun tidak bagi Kim Jisoo yang memang sering bertandang kerumah sahabatnya ini. Ya, ini adalah rumah kediaman keluarga Park pemilik Yayasan Sekolah mereka bersekolah yang tak lain Ayah dari seorang Park Dayeol. Tidak ada salah satu dari murid di SMA nya yang mengetahui Park Dayeol adalah anak dari salah satu jajaran orang terkaya di Korea Selatan, kecuali Kim Jisoo yang notabene nya adalah sahabat dari masa taman kanak-kanak.

Kini mereka sudah berada di dalam kamar Dayeol yang berwarnakan hijau –warna kesukaan Dayeol- berisikan satu bed berukuran king size ,sofa serta home theater terpampang didepan nya. Mereka duduk berdampingan menonton drama favorit mereka seraya menyantap snack yang sudah disiapkan. Karena terlalu fokus Jisoo sampai tidak sadar kalau Dayeol sudah tidak ada disampingnya, ia mengedarkan pandangannya dan melihat Dayeol sedang di atas kasurnya fokus pada laptop didepan nya dan disampingnya terdapat kamera kesayangan nya.

Dayeol yang melihat Jisoo datang menghampirinya cepat-cepat menutup laptopnya seperti orang yang takut ada orang yang melihat apa yang sedang ia lakukan. Jisoo yang melihat tindakan sahabatnya itu hanya bisa menghela nafasnya dan duduk di hadapan sahabatnya ini.

“Apakah aku belum boleh melihat foto orang yang kau sukai itu?” Kini Jisoo menatap sahabat nya dengan tatapan penuh harap. Dayeol menggelengkan kepala nya menandakan tidak.

“Ulang tahunku berapa lama lagi ya..hmm?”Bukan nya menjawab ,Dayeol bertanya kembali. Jisoo yang mendengar itu menautkan alisnya, tidak mengerti.

“Dua Minggu lagi” Walaupun belum mengerti apa maksud dari itu Jisoo tetap menjawabnya dan kini ia memasang ekspresi orang meminta jawaban kepada Dayeol. Dayeol yang mengerti atas ekspresi itu hanya mengangkat bahu nya dan meninggalkan Jisoo diatas kasurnya dan menuju sofa meneruskan menonton drama yang belum usai.

Gadis berperawakan tinggi berbadan ideal dengan rambut yang di ikat satu membiarkan rambutnya mengikuti irama jalannya dan tidak lupa kamera DSLR yang selalu menemani nya tergantung dilehernya menelusuri koridor yang tergolong masih sepi menuju tempat favoritnya dengan terlebih dahulu menaruh tas nya dikelas. Disaat menaiki tangga menuju tempat favoritnya gadis ini mendengar seseorang atau lebih –ia tak bisa memastikan- sedang berbicara. Karena takut dikira menguping ia menghela napas kesal seraya berbalik badan berniat untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tempat favoritnya pagi ini.

‘…lama menyukaimu.’  Tapi niatnya batal karena Dayeol mendengar jelas suara pria yang sangat ia kenali nya itu berbicara. Ia berdiri mematung mencoba mendengarkan dengan siapa lawan bicara pria itu.

Murid dikelas 12A siang ini sangat berisik karena tiap bangku bisa dipastikan sedang membicarakan satu topik yang sama, yaitu mengenai kenapa seorang Park Dayeol mengikuti pelajaran Seni Park Seosangnim. Tapi orang yang dibicarakan bukan nya mengerjakan tugas gambar yang diberikan ia malah melamun seraya terus memotret pemandangan seseorang yang sedang bermain basket bersama teman sekelasnya.

Sedangkan teman sebangkunya yang sekaligus sahabatnya terus konsentrasi menggambar. Dayeol tertarik melihat gambar apa yang sedang Jisoo kerjakan, karena baru berupa sketch Dayeol tidak tahu siapa yang sedang ia gambar, yang pasti dilihat dari rambutnya itu adalah seorang pria. Dayeol meneruskan kegiatannya, sekitar satu jam kemudian Jisoo mengintrupsi kegiatan Dayeol.

“Coba lihat ini Yeol-ah” Dayeol menghadap kearah Jisoo yang sedang tersenyum lebar seraya memegang hasil sketsa nya selama dua jam terakhir. Dayeol tahu betul sosok yang Jisoo lukis,yang kini terpampang jelas dihadapan Dayeol.

“I..tu siapa?” Tanya Dayeol hanya berpura-pura.

Dengan wajah yang sangat berseri-seri Jisoo mulai bercerita tentang sosok pria yang ada di sketsanya, tanpa Jisoo ceritakan dan beritahu sebenarnya Dayeol sudah tahu betul siapa dia dan bagaimana ceritanya.

Pagi itu.

Dayeol POV’s

Aku sangat gembira pagi ini, karena setelah semalaman membujuk Appa untuk menunda kepindahan kita sampai hari kelulusanku berhasil. Aku ingin sekali merasakan hari kelulusanku bersamanya, bersama pria itu. Hari ini rambutku yang biasanya terurai menutupi hampir sebagian mukaku kuikat satu menampilkan leher jenjangku. Pagi-pagi sekali aku memutuskan untuk berangkat sekolah berniat untuk memotret pemandangan dipagi hari yang sudah lama kutinggalkan. Setelah menaruh tas dikelas aku segera menuju ke atap sekolah tempat favoritku dengan menaiki satu persatu anak tangga.

Dipertengahan jalan tepatnya disimpang tangga aku mendengar seseorang atau bahkan sepasang sedang berbicara, aku tidak tahu pasti karena suara itu berhenti tepat disaat aku menghentikan langkah kakiku, aku hanya bisa menghela napas kesal karena aku tidak mau mereka menemukanku yang menuju atap –karena atap dilarang untuk murid- dan melaporkannya kepada guru, disaat aku berbalik karena tidak mau dikira menguping berniat meninggalkan tempat itu aku mendengar suara yang sangat familiar. Kutajamkan pendengaranku mencoba mendengarkannya.

“…lama menyukaimu”  Pria itu, ya aku yakin betul. Tapi dengan siapa lawan bicaranya.

“I..ya aku juga menyukaimu” Deg! Jisoo… Jadi selama ini? Tak terasa air mataku mengalir karena tak ingin mereka mendengar suara isakan ku aku berlar menujui taman belakang sekolah yang sangat jarang disinggahi,tak terasa sudah dari tiga puluh menit yang lalu aku menangis disini dan disaat jam pelajaran aku beranjak menuju tempat favoritku. Ya , hari ini aku memutuskan membolos.

Kurasakan getar yang berasal dari sakuku, kuambil handphone ku.

From jisoo

Kau dimana?

To jisoo

Tempat biasa, aku tak enak badan. Tak usah menyusul nanti jam istirahat tolong bawakan saja tasku ke ruangan appa. Aku akan pulang sesaat lagi.

From jisoo

Yasudah ,hati-hati. Nanti sepulang sekolah aku mampir ke rumahmu. Get well soon , saranghae!

Aku tak membalas pesannya, kuputuskan untuk pulang sekarang juga selagi tak akan ada murid yang melihatnya, di saat aku melewati lapangan basket terlihat dia sedang bermain bersama teman-teman nya, aku lupa saat ini jam pelajaran olahraga kelasnya. Karena tidak ingin dia dan teman-temannya melihatku kuputuskan untuk membuka kunciranku untuk menutupi mata sembabku seraya berlari.

“Appa, bisakah kita pergi ke german tepat dimalam sehari sebelum aku ulang tahun?” ku beranikan menatap Appa yang kini sedang duduk didepanku seraya menyantap makan malam nya.

“Kenapa dengan anak appa ini hmm?”

“Aku tiba-tiba merasa bosan sekolah disana appa” Demi Eomma yang sudah di surga, aku meminta maaf telah berbohong kepada Appa.

“As your wish dear”

“Jeongmal Gomawo Appa” Kutunjukkan senyum bahagiaku. Tak kusangka akan semudah ini. Kuteruskan makan malam bersama Appa.

Author POV’s

Setelah mendengarkan seluruh cerita Jisoo belum sempat Dayeol berkomentar bel pulang berbunyi, dan Dayeol mensyukuri itu. Keduanya pun memutuskan bersiap-siap untuk pulang.

“Dayeol, besok tidak ada perayaan dirumahmu?”

“Tidak ada, dan jangan kerumah ku oke, semoga liburanmu menyenangkan Jisoo” Ya, ulang tahun Dayeol tahun ini bertepatan dengan dimulainya liburan musim panas mereka. Dayeol berlari keluar kelas meninggalkan Jisoo yang belum sempat membalas perkataan nya. Diluar kelas ia hampir saja menabrak seseorang, setelah ia melihat siapa yang ada dihadapannya jantung Dayeol rasanya ingin keluar.

“Apa jisoo masih didalam?” Pria itu bertanya pada Dayeol seraya menampilkan senyum yang selalu Dayeol impikan.

“Ada” Dayeol membalas singkat dan meninggalkan pria itu sendirian menatap kepergian Dayeol dengan tatapan yang sulit diartikan.Bukannya Dayeol sombong tapi ia berbuat itu hanya untuk menghindari niatnya pergi tidak goyah karena berlama-lama berbicara dengan nya.

  1. 00 AM KST, Incheon.

Dayeol kini sudah berada di pesawat menuju German dengan Appa nya yang ada disebelahnya. Karena melihat sang anak masih memainkan hp nya sang appa mengingatkan Dayeol untuk mematikan hp nya sebelum pramugari yang menegur sang anak. Dayeol mengerti dan setelah merasa selesai dengan kegiatan nya ia segera mematikan hp nya.

Dilain tempat Kim Jisoo sudah berada didepan rumah sang sahabat dengan plastic yang membungkus sebuah kue didalamnya.

Ting ..tong..

“Ah nona, ada apa malam-malam kemari?” Seorang ahjumma membukakan pintunya menyambutnya.

“Apa dayeol sudah tidur?” Ahjumma didepan nya menunjukkan rasa sedikit tidak enak.

“Aah.. anu nona, tuan dan nona dayeol sudah berangkat ke German.

“Mwo?! Mereka hanya liburan kan bi” Jisoo sangat terkejut. Dan menunjukkan raut khawatir pasalnya kalau dayeol ingin berlibur ke suatu tempat pasti ia akan bercerita.

“Tidak nona, tuan dan nona dayeol akan menetap disana untuk beberapa tahun.. apa nona ingin tetap disini?”

“Ah.. sepertinya aku akan pulang saja, ini kue nya buat bibi saja, aku pamit ya” Sesampainya di pelataran rumah Dayeol ia menerima pesan dari orang yang kini sedang difikirkannya.

From Dayeol

Sudah kubilang jangan kerumahku!

To Dayeol

Yak! Apa yang kau lakukan, cepat kembali jangan tinggalkan aku!

Message Was Not Delivery

Jisoo meneteskan air mata, entah kenapa saat ini rasanya sangat sedih.

‘Hari ini aku membolos dari pelajaran Appaku –lagi- itu hanya untuk melihatmu, dan itu membuatku dipertanyakan oleh teman kelasku, tapi aku beruntung memiliki seorang sahabat yang selalu ada disampingku’ – C

‘Malam ini aku berhasil membujuk Appa untuk mengundurkan jadwal kepindahan kita, itu demi bisa aku merayakan kelulusanku bersama mu’ –C

‘4.395, foto yang sudah kukumpulkan sudah empat ribu tiga ratus sembilan puluh lima, apakah ada foto yang ke 4.396?.’

‘Dari awal aku menyukaimu aku sangat ingin memperjungkan mu, tapi aku tidak cukup berani untuk berjuang dari awal dan disaat aku sudah siap untuk memperjuangkanmu seseorang terlebih dahulu sudah memilikimu tapi aku merasa senang mengetahui siapa yang telah mendapatkan hatimu saat ini, aku merasa aman dirimu bersamnya..Aku minta maaf karena tak sempat memperjuangkanmu..Nam Taehyun’-C

Seseorang membaca tulisan-tulisan yang tertera di sebuah blog dengan air mata membasahi pipinya.

End~

 

 

Coba itu ceritanya gimana?*tutup muka* ,makasih buat yang udah baca ,maaf kalo ceritanya absurd ,kurang feel nya , dan ngegantung. #Salam Troll –bow-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s